Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Oktober 2010

Atheisme Dari Pandangan Para Filsafat


Atheisme sering dikatakan sebagai paham yang tidak mempercayai Tuhan, baik itu keberadaannya maupun perannya dalam kehidupan manusia. Sulit untuk merunut sejak kapan paham ini ada di muka bumi. Walaupun demikian, banyak orang yang mengklaim bahwa dirinya atheis. Atheisme mulai diberikan landasan rasional ilmiah ketika Ludwig Feuerbach menerbitkan karyanya The Essence of Christianity dan melakukan kritik agama khususnya agama Kristen.

Atheisme model Ludwig Feuerbach adalah filsafat model “tak lain daripada…”. Hal ini karena pemikiran yang diajukan hanya melihat sesuatu dibalik/dibelakang masalah yang dibicarakannya. Bukannya secara jujur mengungkapkan kebenaran dan kesalahan dari agama tapi langsung masuk kedalam adanya sesuatu di balik layar dari agama itu : “bahwa agama tak lain daripada….”. Landasan filosofis ini sering disebut dengan nama Reduksionisme

Atheisme dan Hinduisme

Atheis, menurut asal kata Yunani-nya: a [tidak] dan theos [Tuhan].Atheisme adalah keadaan dimana seseorang tidak mempercayai adanya Tuhan. Atheisme bukanlah percaya bahwa Tuhan tidak ada melainkan tidak percaya bahwa Tuhan ada. Dengan kata lain, atheisme bukan merupakan kepercayan atau keyakinan melainkan sistem ketidakpercayaan/ketidakyakinan. 

Atheisme berbeda dengan komunisme. Seorang komunis umumnya atheis, tetapi atheis tidak berarti komunis. Komunisme adalah sebuah sistem pemikiran yang dapat dikembangkan menjadi ideologi dan bahkan sistem pemerintahan, sementara atheisme ketidakpercayaan. Berbeda pula dengan Agnotisme pemeluk Budhistik yang tidak mengetahui apakah Tuhan ada atau tidak

Tawuran Pelajar

Tawuran, Kegelisahan Jiwa Muda

Nampaknya, kata “tawuran pelajar” sudah terlalu kerap didengar di telinga kita. Tapi, mengapa tawuran itu bisa terjadi; apakah inhern dalam diri kaum muda? Artikel ini hendak menyeka permasalahan ini dengan berangkat dari faktor-faktor psikologis dan sosiologis yang menyusun pribadi seorang muda. Arahnya, mengapa kaum muda tawuran. Lalu, akan diberikan solusi yang juga berangkat dari faktor-faktor yang sama; bagaimana faktor-faktor itu dihidupi sedemikian rupa sehingga dapat menjadi modal untuk mengarahkan kaum muda kepada kegiatan yang lebih baik; bukannya tawuran. Sebelumnya, demi memperdalam analisis dan solusi, fokus analisis artikel ini pada tawuran yang dilakukan kaum muda pelajar SMU (usia 15-18 tahun).